troublemaker heart
Di sinilah aku, diam dan
hanya menunggu. Menunggu merupakan hal yang sangat membosankan bagiku, taka da
yang bisa ku lakukan kecuali membaca buku sambal menunggu bus tiba. Yaaa, aku
hanya menunggu hingga bus yang akan aku tumpangi datang. Dan di sinilah aku
sekarang, terdampar di tengah keramaian para penumpang lain di halte bus.
Sejujurnya aku sangat membenci keramaian, entah mengapa suara-suara kebisingan
itu sangat menggangguku, dan itu membuatku ingin cepat-cepat pergi dari tempat
ini. Namun malangnya rumahku berada cukup jauh dari tempat ku sekarang,
sehingga aku harus pulang menggunakan angkutan umum satu ini.
Saat sedang asyik
membaca buku yang sedari tadi tak lepas dari genggaman tanganku, tiba-tiba
terdengar sebuah suara indah nan lembut yang memanggil namaku dari kejauhan.
“ Anton….!” Teriaknya
dari kejauhan
Spontan aku langsung menoleh ke
arahnya, dan betapa terkejutnya aku ketika ku sadari siapa yang telah memanggil
namaku. Aku hanya bisa diam terpaku di tempatku duduk dan hanya memandanginya yang
mulai berjalan mendekat ke arahku. Aku tak membalas panggilannya dan hanya
memperhatikan ketika dia duduk di sampingku tanpa menghiraukan sikapku. Saat
itulah aku merasa jantungku berdebar dengan cepatnya seperti orang yang sedang
habis melakukan lari marathon. Hampir saja aku terlonjak ketika ia menyentuh
bahuku dan menatapku khawatir.
“
kamu kenapa? Kamu sakit?” tanyanya padaku dengan wajah cemas
“tii-tidaakk,
aa-akuuu tidak sakit!” jawabku dengan gugup sambil menatapnya
Sungguh
aku tak mengerti, mengapa ketika aku berdekatan atau berbicara dengan seorang
wanita khususnya wanita yang sedang bersama ku ini, aku merasa gugup dan hanya
diam terpaku tanpa berbicara sedikit pun kecuali mereka yang memulai duluan.
Hanya sebaris kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku karena aku benar-benar
gugup saat berada di sampingnya. Dia pun hanya diam saja tanpa bicara, hanya
saja dia terus menatapku dengan tatapan yang aneh dan itu sedikit membuatku
merasa tak nyaman.
Lama
kami dalam keheningan hingga bus yang dinantikan datang. Aku langsung bergegas
berdiri dan langsung menaiki bus tanpa sepatah kata pun. Yang aku inginkan
sekarang adalah menjauh darinya dan pergi untuk menenangkan hatiku ini.
Dari
jendela bus bisa ku lihat ia hanya duduk dan memperhatikan bus yang perlahan
mulai menjauh dan meninggalkan halte tanpa menatapku lagi. Dia terlihat sedih
dan diam saja tanpa bergerak. Aku merasa sedikit bersalah padanya karena aku
telah mengabaikan dan pergi begitu saja tanpa pamit padanya.
“Huuuffff….
Andai saja aku bisa merubah sifatku, pasti hidupku akan menjadi lebih baik lagi
dari keadaan ku sekarang ini.” Kataku pada diriku sendiri.
Sesampainya
di rumah, aku langsung menuju kamarku dan merebahkan diri di Kasur yang empuk
ini, mataku terpejam dan terlintas kejadian tadi di depanku, aku masih memikirkannya.
Bagaimana perasaannya sekarang? Apakah aku telah membuatnya bersedih. Aaaahhhh
ini benar-benar mengganggu ku, kenapa aku harus bertemu dengannya hari ini,
jika saja ia tidak menghampiriku, mungkin aku akan baik-baik saja sekarang. Ku
buka mataku dan dudk di pinggir Kasur, aku benar-benar merasa bersalah padanya.
Haruskah aku meminta maaf kepadanyabesok?. Kembali aku berbaring dan tanpa
sadar aku tertidiur dengan sendirinya.
Aku
tersedar ketika sebuah suara lembut membangunkan ku dan menyuruhku untuk segera
turun. Dengan malas aku bangun dari tidurku dan melihat ibuku sudah berada di
dekatku.
“ anton kenapa kamu nggak makan
siang dulu tadi?” tanya ibu padaku
Dengan malas aku menjawab pertanyaan
ibu. “ nggak apa-apa bu, aku hanya sedang tidak nafsu makan.”
“ Hmmmmm, baiklah kalo gitu ibu
turun duluan ya, kamu jangan lupa makan.” Kata ibu sambil berlalu dan
meninggalkan ku sendiri.
Setelah
ibu pergi, aku kembali teringat pada gadis yang menghampiriku tadi. Sudah lama
aku mengenalnya, hanya saja aku malu untuk mendekatinya. Dia gadis yang manis,
baik dan sangat perhatian kepada siapapun. Sebenarnya aku sangat ingin sekali
mendekatinya, hanya saja sifat pemalu ku inilah yang menjadi penghalangku. Tetapi
besok aku akan meminta maaf padanya karena sikapku sudah sedikit keterlaluan
padanya. Tak seharusnya gadis sebaik itu ku perlakukan seperti itu.
Aku
membulatkan tekat dan itu harus aku lakukan besok. Dengan penuh semangat aku keluar
kamar dan turun ke bawah dan melakukan apa yang di suruh ibuku tadi.
Bersambung
Jangan lupa untuk menantikan
kelanjutan nya ya….
Komentar
Posting Komentar