Nama   : Santi Aprilia Wati

Nim     : 11901271

Kelas   : PAI 4E

Tugas   : Magang 1

 

Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah adalah suatu proses, dalam arti serangkaian kegiatan yang diupayakan kepala sekolah bagi kepentingan sekolahnya. Segala proses pendayagunaan semua komponen, baik komponen manusia maupun non manusia, yang dimiliki sekolah dalam rangka mencapai tujuan secara efisien. Tujuan manajemen sekolah adalah guna membantu pencapaian misi, visi, tujuan tahunan dan program-program sekolah. Sekolah yang baik memiliki beberapa model, yang pertama  model tujuan (model tradisional): pengukuran melalui tujuan-tujuan operasional. Yang kedua model sistem (pendekatan proses/multidimensi. Dan yang terakhir model tujuan-sistem.

Fungsi-fungsi esensial sekolah yaitu:

1.      Penstrukturan waktu

2.      Penstrukturan aktivitas yang harus diikutu peserta didik

3.      Pendefinisian kecerdasan, kemampuan intelektual, prestasi dan perilaku yang ba

4.      Penilaian

5.      Pemisahan peran dan tanggungjawab antara guru dan peserta didik

6.      Supervisi dan pengawasan terhadap peserta didik

7.      Pertanggungjawaban

Ada 8 elemen komponen dalam standar nasional pendidikan, yaitu ada Kompetensi lulusan, Isi (kurikulum), Proses pembelajaran, Pendidik dan tenaga kependidikan, Pengelolaan, Prasarana dan sarana, Pembiayaan dan yang terakhir Penilaian.

Manajemen sekolah merupakan tindakan pengelolaan dan pengadministrasian sekolah. Manajemen sekolah berarti memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan sekolah. Manajemen sekolah memiliki dua aspek, yaitu aspek manajemen eksternal dan manajemen internal. Manajemen internal sekolah meliputi perpustakaan, laboratorium, bangunan dan saran fisik lainnya, sumber dana, pelaksanaan evaluasi pendidikan, dan hubungan antar guru, murid. sedangkan manajemen eksternal meliputi hubungan dengan pihak luar sekolah seperti masyarakat, dewan pendidikan, dinas pendidikan maupun pihak lain yang terkait dengan fungsi sekolah.

Manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan sekolah dengan memberikan kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri secara langsung sehingga sekolah memiliki tanggung jawab dalam menentukan program-program sekolah. MBS merupakan bentuk reformasi desentralisasi yang mendorong adanya partisipasi demokratis.

Tujuan Utama MBS adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Implementasi MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisiensikan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih.MBS memberi peluang pada kepala sekolah dan guru serta peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial, dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas dan profesionalisme yang dimiliki.

Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut:

a.       kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua, dan guru

b.      bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya local

c.       efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti,kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.

Efektivitas penerapan MBS berpijak pada 6 hal berikut ini:

a.       Otonomi, fleksibilitas dan responsiviats

b.      Direncanakan oleh kepala sekolah dan komunitas sekolah

c.       Penerapan atau adaptasi aturan baru oleh kepala sekolah

d.      Partisipasi dari lingkungan sekolah

e.       Kolaborasi antar staff

f.       Hubungan baik antara kepala sekolah dan guru

Faktor Fungsi Pokok Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru serta masyarakat setempat, untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi pokok manajemen tersebut merupakan proses yang berkesinambungan.

Selanjutnya, keempat fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.       Perencanaan program pendidikan sedikitnya mempunyai dua fungsi utama. Pertama, merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga untuk mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan.

Kedua, kegiatan untuk menggerakkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien dan efektif untuk menciptakan tujuan yang telah ditetapkan.

b.      Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

c.       Pengawasan dapat diartikan  sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan, merekam, memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat serta memperbaiki kesalahan. Pengawasan merupakan kunci keberhasilan dalam seluruh proses manajemen, perlu dilihat secara komprehensif, terpadu dan tidak terbatas pada hal-hal tertentu.

d.      Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.

Faktor Efektivitas,  Efisiensi dan Produktivitas Manajemen Sekolah

Pembinaan sistem  pendidikan suatu sekolah tidak hanya ditentukan oleh peranan salah satu unit kerja, tetapi oleh semua unit kerja dalam lingkungan sekolah tersebut. Sehubungan dengan itu, keberhasilan implementasi manajemen sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan sedikitnya dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Ketiga dimensi tersebut saling berkaitan antara satu sama lain dan saling pengaruh mempengaruhi. Meskipun demikian, dalam mengukur keberhasilan suatu program atau suatu kegiatan ketiga dimensi tersebut dapat dipisahkan.

Efektivitas, efisiensi dan produktivitas manajemen sekolah harus sejak awal ditetapkan agar dapat diketahui dampaknya sejak dini terhadap pencapaian tujuan pendidikan pada umumnya, khususnya dalam merealisasikan berbagai program sekolah. Dengan demikian sejak awal dapat diperbaiki kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan, sementara kelebihan dan kekuatan dapat dipertahankan.

Kegiatan Belajar-Mengajar di Sekolah

Proses perkembangan prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga seorang siswa dapat dikatakan berhasil dalam belajar atau dapat dikatakan mendapat prestasi belajar yang tinggi. Dalam hal ini kita perhatikan suatu pendapat yang dikemukakan oleh Muhibbin Syah bahwa :

Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam, yakni :

1.      Faktor Internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.

2.      Faktor Eksternal (faktor dari luar diri siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.

3.      Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

Dalam banyak hal faktor-faktor di atas sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap biasa-biasa saja terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor ekstern) umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berinteligensi tinggi (faktor intern) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor ekstern), mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Jadi karena pengaruh faktor-faktor tersebutlah muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi dan yang berprestasi rendah atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka.

Sumber: Engkoswara, Paradigma Manajemen Pendidikan, Menyongsong Otonomi daerah, (Bandung: Yayasan Atmal Keluarga, 2001), hal. 86

1962-, Mulyasa, E. (Enco), (2002). Manajemen berbasis sekolah : konsep, strategi, dan implementasi (edisi ke-Cet. 1). Bandung: Remaja Rosdakarya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_sekolah

http://staffnew.uny.ac.id/upload/132313278/pendidikan/MANAJEMEN+SEKOLAH.pdf

 


Komentar